Semilir angin bertiup di padepokan Kampung Gajah. Jerami berguling di halaman. Debu beterbangan. Di aula utama, tetua Kampung, Pakerte, memanggil sejumlah muridnya. Ia bertanya, “Wahai muridku, apakah versi Indonesia dari the quick brown fox jumps over the lazy dog?”
Murid Wesly menjawab: “abcdefghijklmnopqrstuvwxyz!”
Murid Anom menjawab: “rubah coklat cepat melompati anjing yang malas.”
Murid Dodi menjawab: “qwertyuiop, asdfghjkl, zxcvbnm.”
Murid Rivo menjawab: “Ini ibu Budi.”
Murid Henny menjawab: “Rubah coklat yang sebat [itu] melompati anjing yang malesbangetsihloematiajagihsono!”
Tetua kampung Pakerte diam saja mendengar semua jawaban itu. Wajahnya murung. Seperti Menteri Kominfo yang murung, mirip juga walikota Depok yang murung.
Sumpah, mirip!
Lalu murid Tub datang mendekat. “Tetua,” kata Tub, “ini ada pesan dari Kakang Jay.” Murid Tub lalu membuka sebuah gulungan, di mana tertera versi Indonesia dari the quick brown fox jumps over the lazy dog.
Tertulis di sana, dengan anggunnya, sebuah kunci versi lokal dari ilmu ketik sepuluh jari:
Walau macet VW Faizal dikejar taxi sang Buqhory.
Tetua kampung Pakerte tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Seperti Menteri Kominfo yang matanya berkaca-kaca, mirip juga walikota Depok yang matanya berkaca-kaca.